Indonesia sebagai negara tropis basah memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, termasuk kehidupan hayati tanah yang berperan penting dalam sistem produksi pertanian. Namun, praktik pertanian intensif yang bergantung pada pupuk kimia dan pestisida sintetis telah menyebabkan degradasi tanah secara perlahan namun pasti. Di tengah tantangan perubahan iklim, penurunan kesuburan lahan, dan meningkatnya biaya produksi, pemberdayaan sumber daya hayati tanah muncul sebagai strategi kunci dalam membangun pertanian yang ramah lingkungan, mandiri, dan berkelanjutan. Artikel ini membahas secara komprehensif bagaimana peran mikroorganisme dan fauna tanah dapat dioptimalkan untuk mendukung sistem pertanian masa depan Indonesia.
Krisis Kesuburan Tanah di Pertanian Tropis dan Akar Permasalahannya
Wilayah tropis basah seperti Indonesia dicirikan oleh curah hujan tinggi, suhu hangat sepanjang tahun, serta aktivitas pelapukan mineral yang intensif. Kondisi ini di satu sisi mendukung keanekaragaman hayati, tetapi di sisi lain mempercepat pencucian unsur hara penting seperti nitrogen (N) dan menyebabkan fosfor (P) terjerap kuat oleh oksida besi dan aluminium. Akibatnya, sebagian besar tanah pertanian di Indonesia tergolong tanah tua dengan tingkat kesuburan alami yang rendah.
Dalam beberapa dekade terakhir, strategi peningkatan produksi pangan ditempuh melalui pertanian intensif. Pendekatan ini menitikberatkan pada penggunaan pupuk anorganik dosis tinggi, pestisida kimia sintetis, serta pengolahan tanah berulang. Secara jangka pendek, hasil panen memang meningkat. Namun, dalam jangka panjang, pola ini justru mempercepat degradasi tanah.
Salah satu dampak paling signifikan adalah menurunnya kandungan bahan organik tanah. Bahan organik bukan sekadar sumber hara, tetapi juga penopang utama struktur tanah, penyimpan air, serta sumber energi bagi organisme tanah. Ketika bahan organik menurun, aktivitas biologis tanah ikut melemah. Tanah kehilangan kemampuannya dalam mengatur daur hara dan energi, sehingga menjadi “tanah mati” yang sangat bergantung pada input dari luar.
Lebih jauh, pengolahan tanah intensif dan penggunaan pestisida sintetis terbukti menekan populasi fauna tanah, khususnya kelompok detritivora dan karnivora seperti cacing tanah. Padahal, fauna tanah memiliki peran krusial dalam membentuk agregat tanah, menciptakan pori-pori alami, serta meningkatkan aerasi dan infiltrasi air. Hilangnya fauna tanah menyebabkan struktur tanah menjadi padat, mudah tererosi, dan kurang mampu menyimpan air.
Dengan kata lain, krisis kesuburan tanah di pertanian tropis bukan semata persoalan kekurangan pupuk, melainkan kegagalan dalam menjaga keseimbangan ekosistem tanah secara utuh.
Peran Strategis Sumber Daya Hayati Tanah dalam Daur Hara dan Energi

Sumber: Pinterest
Sumber daya hayati tanah mencakup mikroflora (bakteri, jamur, actinomycetes), mikrofauna, mesofauna, hingga makrofauna seperti cacing tanah dan serangga tanah. Seluruh organisme ini membentuk jaringan kompleks yang mengendalikan daur hara dan energi dalam tanah.
Mikroorganisme tanah berperan sebagai pengurai utama bahan organik. Mereka memineralisasi sisa tanaman dan limbah organik menjadi unsur hara yang dapat diserap tanaman. Beberapa mikroba bahkan memiliki fungsi khusus, seperti bakteri penambat nitrogen bebas dan mikroba pelarut fosfat, yang mampu menyediakan hara esensial langsung dari sumber lokal tanah dan udara.
Namun, peran mikroba akan jauh lebih efektif jika didukung oleh fauna tanah. Fauna tanah, khususnya cacing tanah endogaesis, bertindak sebagai “insinyur ekosistem”. Mereka menggali liang, mencampur bahan organik dengan mineral tanah, serta menghasilkan kotoran (kascing) yang kaya hara dan memiliki stabilitas agregat tinggi. Kascing ini mampu melindungi karbon organik dari dekomposisi cepat, sehingga membantu menjaga cadangan bahan organik tanah dalam jangka panjang.
Penelitian menunjukkan bahwa tanah dengan populasi fauna tanah yang tinggi memiliki struktur lebih remah, porositas lebih baik, serta ketersediaan air dan hara yang lebih stabil. Bahkan, keberadaan cacing tanah sering digunakan sebagai indikator biologis kesuburan tanah. Tanah yang “hidup” hampir selalu ditandai dengan aktivitas fauna tanah yang aktif.
Pemberdayaan sumber daya hayati tanah berarti mengelola pertanian dengan cara yang mendukung keberlangsungan organisme-organisme ini. Praktiknya meliputi pengembalian bahan organik ke tanah, pengurangan gangguan mekanis berlebihan, serta menghindari bahan kimia yang bersifat toksik bagi kehidupan tanah.
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi pemupukan, tetapi juga memperpanjang daur hara dan energi secara alami. Dengan demikian, ketergantungan pada input eksternal dapat dikurangi, biaya produksi ditekan, dan risiko pencemaran lingkungan diminimalkan.
Pemberdayaan Hayati Tanah sebagai Pilar Pertanian Ramah Lingkungan
Pertanian ramah lingkungan tidak dapat dilepaskan dari pengelolaan sumber daya lahan yang berbasis ekologi. Pemberdayaan sumber daya hayati tanah menjadi pilar utama karena menyentuh aspek paling mendasar dari sistem produksi pertanian, yakni tanah sebagai media tumbuh.
Langkah pertama adalah penggunaan lahan sesuai dengan daya dukungnya. Tanah dengan kesuburan rendah sebaiknya dikelola dengan target produktivitas moderat, bukan dipaksa menghasilkan panen tinggi melalui input kimia berlebihan. Strategi ini mengurangi tekanan terhadap ekosistem tanah dan mencegah degradasi lebih lanjut.
Selanjutnya, pengelolaan bahan organik harus dilakukan secara terencana. Bahan organik tidak cukup hanya ditambahkan di permukaan, tetapi idealnya ditempatkan sedemikian rupa agar dapat dimanfaatkan oleh fauna tanah. Pemberian bahan organik secara berkelanjutan akan menarik kembali fauna tanah, memperbaiki struktur tanah, serta meningkatkan ketebalan lapisan olah.
Penggunaan pupuk anorganik, pupuk organik, dan pupuk hayati perlu dilakukan secara terpadu. Pupuk kimia tetap dapat digunakan, namun dalam dosis rasional dan dikombinasikan dengan sumber hayati lokal. Pendekatan ini menjaga keseimbangan neraca hara sekaligus melindungi kehidupan tanah.
Dalam konteks pengendalian organisme pengganggu tanaman, sistem pengendalian hayati menjadi pilihan utama. Dengan menjaga keseimbangan ekosistem tanah, risiko ledakan hama dan penyakit dapat ditekan tanpa harus bergantung pada pestisida sintetis. Hasilnya adalah produk pertanian yang lebih aman, sehat, dan bernilai tambah tinggi.
Sebagai lembaga riset nasional, Balai Penelitian Tanah menegaskan bahwa indikator pertanian ramah lingkungan tidak hanya diukur dari hasil panen, tetapi juga dari kondisi ekologis tanah. Indikator tersebut meliputi erosi di bawah ambang toleransi, emisi karbon yang terkendali, kandungan bahan organik yang stabil, serta keberadaan organisme tanah sebagai pelaku utama daur ekosistem.
Pemberdayaan sumber daya hayati tanah merupakan strategi fundamental dalam menjawab tantangan pertanian di wilayah tropis basah seperti Indonesia. Krisis kesuburan tanah yang terjadi saat ini bukan semata akibat kekurangan pupuk, melainkan karena terputusnya keseimbangan biologis dalam ekosistem tanah. Mikroorganisme dan fauna tanah memiliki peran yang tidak tergantikan dalam menjaga daur hara, memperbaiki struktur tanah, serta mempertahankan cadangan bahan organik.
Melalui pengelolaan bahan organik yang tepat, penggunaan pupuk terpadu, pengurangan gangguan mekanis, dan penerapan pengendalian hayati, sistem pertanian dapat dikembalikan pada prinsip keberlanjutan. Pertanian ramah lingkungan bukan hanya tentang menjaga alam, tetapi juga tentang membangun sistem produksi yang efisien, mandiri, dan tahan terhadap krisis jangka panjang.
Dengan menjadikan sumber daya hayati tanah sebagai fondasi utama, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan pertanian yang produktif sekaligus selaras dengan ekosistem. Tanah yang hidup adalah kunci bagi masa depan pangan yang berkelanjutan.
Sumber: Subowo
Penulis: Novia Ayu Hafidah











