Terpilihnya seorang mahasiswa Agroteknologi sebagai Presiden Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Indonesia (PresNas PTMAI) Zona V Jawa Timur 2025–2026 bukan sekadar capaian personal, melainkan penanda perubahan arah kepemimpinan mahasiswa.
Bagus Arif Rizki Refandi hadir membawa gagasan baru: menghidupkan kembali nalar kritis mahasiswa, meruntuhkan stigma kepemimpinan berbasis latar belakang jurusan, serta mengangkat isu strategis pertanian dan ketahanan pangan ke ruang advokasi mahasiswa nasional.
Dari Kaderisasi hingga Kepemimpinan Nasional: Proses yang Membentuk Visi
Kepemimpinan mahasiswa tidak lahir secara instan. Ia tumbuh melalui proses panjang, disiplin organisasi, dan kesadaran ideologis yang matang.
Hal inilah yang tercermin dari perjalanan Bagus Arif Rizki Refandi sebelum terpilih sebagai PresNas PTMAI Zona V Jawa Timur periode 2025–2026.
Bagus memulai proses kaderisasi dari tingkat paling dasar organisasi kemahasiswaan, mulai dari Himpunan Mahasiswa (HIMA), Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEM FA), hingga Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM U).
Menurutnya, struktur hierarki kaderisasi bukan sekadar formalitas, melainkan ruang pembelajaran kepemimpinan yang sistematis.
“Bisa dibilang itu menjadi gerbong atau jembatan awal saya diamanahi sebagai presiden mahasiswa, karena saya mencoba tertib pada dinamika hirarki pengkaderan itu sendiri,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan mahasiswa yang kuat lahir dari kepatuhan terhadap proses, bukan dari ambisi personal semata. Dalam konteks organisasi mahasiswa, kaderisasi berfungsi sebagai ruang internalisasi nilai, penguatan karakter, serta pembentukan daya analisis terhadap persoalan sosial.
Ketertarikan Bagus untuk maju sebagai presiden mahasiswa nasional justru lahir dari kritik yang ia bangun ketika aktif di ranah eksekutif. Ia melihat fenomena mahasiswa yang semakin apatis terhadap isu sosial, bahkan tidak memahami peran strategisnya sebagai agen perubahan.
“Hal tersebut menjadi motivasi saya untuk menjadi furqon atau pembeda, menciptakan pembaruan di kalangan mahasiswa,” ujarnya.
Dalam perspektif ini, kepemimpinan tidak dimaknai sebagai simbol kekuasaan, melainkan sebagai instrumen perubahan. Mahasiswa, menurut Bagus, harus kembali pada esensi intelektualnya: kritis, peka, dan berani bersuara.
Agroteknologi dan Tantangan Stigma: Membuktikan Kepemimpinan Lintas Disiplin

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Bagus adalah stigma lama dalam dunia kemahasiswaan. Secara historis, posisi presiden mahasiswa di banyak perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta sering diidentikkan dengan mahasiswa berlatar belakang ilmu hukum atau sosial-politik.
Realitas tersebut tidak ia hindari, justru ia hadapi secara terbuka.
“Presma di kebanyakan PTS maupun PTN memang berlatar belakang hukum. Saya dari Agroteknologi ingin mengubah stigma itu,” tuturnya.
Bagus menegaskan bahwa kemampuan memimpin tidak ditentukan oleh jurusan, melainkan oleh kapasitas berpikir, analisis, dan problem solving. Ia menilai bahwa Agroteknologi justru membentuk karakter kepemimpinan yang kuat karena terbiasa dengan proses panjang, riset lapangan, serta dinamika alam yang tidak instan.
Dalam ilmu Agroteknologi, mahasiswa diajarkan tentang ketekunan, kesabaran, dan adaptasi. Proses menanam, merawat, hingga panen menjadi metafora kepemimpinan yang relevan.
“Di Agroteknologi tidak ada yang instan. Kita menikmati proses, seperti petani. Banyak dinamika, seleksi alam, ada yang gugur, ada yang bertahan,” jelasnya.
Pendekatan ini memberikan perspektif unik dalam kepemimpinan mahasiswa: kepemimpinan sebagai proses ekologis, bukan sekadar administratif. Dalam konteks organisasi, tidak semua program langsung berhasil, tidak semua gagasan diterima, namun keberlanjutan dan konsistensi menjadi kunci.
Lebih jauh, terpilihnya Bagus menjadi PresNas PTMAI Zona V juga memperluas representasi keilmuan dalam struktur nasional mahasiswa Muhammadiyah–‘Aisyiyah. Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Indonesia selama ini dikenal sebagai ruang kaderisasi kepemimpinan progresif, dan kehadiran mahasiswa Agroteknologi di posisi puncak memperkaya spektrum gagasan yang dibawa.
Menghidupkan Nalar Kritis dan Isu Ketahanan Pangan Mahasiswa
Dalam visi kepemimpinannya, Bagus menekankan pentingnya menghidupkan kembali nalar kritis mahasiswa, baik dalam forum kemahasiswaan, akademik, maupun ruang sosial yang lebih luas. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh berhenti pada aktivitas seremonial, melainkan harus hadir sebagai representasi intelektual masyarakat.
“Mahasiswa dengan gelar maha ini bisa dikatakan sebagai ujung tombak yang mewakili aspirasi masyarakat,” tegasnya.
Salah satu fokus utama yang ingin ia dorong adalah isu ketahanan pangan. Sebagai mahasiswa Agroteknologi, Bagus menilai ironi besar ketika mahasiswa pertanian justru apatis terhadap bidang keilmuannya sendiri.
Isu ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi menyangkut kebijakan publik, distribusi, keberlanjutan lingkungan, hingga keadilan sosial. Dalam konteks nasional, pertanian masih menjadi sektor strategis yang menentukan stabilitas ekonomi dan sosial.
Namun sayangnya, banyak mahasiswa termasuk dari rumpun pertanian tidak menjadikan isu ini sebagai ruang advokasi. Di sinilah Bagus melihat celah perubahan dengan menghubungkan diskursus akademik dengan gerakan mahasiswa.
Ia menekankan bahwa keberhasilan kepemimpinan mahasiswa tidak diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari sejauh mana aspirasi mahasiswa benar-benar tersampaikan dan diwujudkan dalam bentuk nyata.
“Indikatornya adalah aktualisasi dan bukti konkret, bukan hanya wacana,” ujarnya.
Lebih dari itu, Bagus menargetkan warisan kepemimpinan yang berkelanjutan. Baginya, kepemimpinan yang berhasil adalah kepemimpinan yang meninggalkan sistem, bukan sekadar pencapaian personal.
“Kepemimpinan itu berhasil ketika meninggalkan legasi berupa sistem yang bisa dikembangkan dari zaman ke zaman, bukan hanya materi,” ungkapnya.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip keberlanjutan organisasi yakni membangun tata kelola, budaya diskusi kritis, serta mekanisme advokasi yang dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Terpilihnya Bagus Arif Rizki Refandi sebagai Presiden Nasional BEM PTMAI Zona V Jawa Timur 2025–2026 menjadi simbol perubahan dalam lanskap kepemimpinan mahasiswa Indonesia. Dari seorang mahasiswa Agroteknologi, ia hadir mematahkan stigma, membawa perspektif lintas disiplin, serta mengangkat isu strategis pertanian dan ketahanan pangan ke panggung nasional.
Lebih dari sekadar jabatan, kepemimpinan Bagus menegaskan bahwa mahasiswa harus kembali pada perannya sebagai agen perubahan, kritis, solutif, dan berorientasi pada keberlanjutan sistem. Dengan fondasi kaderisasi yang kuat, visi intelektual yang tajam, serta keberanian melawan arus, ia membuktikan bahwa kepemimpinan mahasiswa tidak ditentukan oleh jurusan, melainkan oleh gagasan dan integritas.
Di tengah tantangan apatisme mahasiswa dan kompleksitas isu sosial, kepemimpinan seperti inilah yang dibutuhkan, kepemimpinan yang berakar pada proses, berpihak pada substansi, dan menanam benih perubahan untuk masa depan.
Penulis : Novia Ayu Hafidah











