Serangan penyakit tular tanah pada tanaman tomat kembali menjadi sorotan para peneliti dan praktisi pertanian. Dua patogen utama, Rhizoctonia solani dan Fusarium oxysporum, diketahui menyebabkan kerugian besar di berbagai sentra produksi tomat, khususnya di wilayah tropis. Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak negatif fungisida kimia, hasil riset menunjukkan bahwa agen hayati lokal seperti Trichoderma spp. dan Pseudomonas fluorescens berpotensi menjadi solusi ramah lingkungan yang efektif dan berkelanjutan. Temuan ini membuka peluang baru bagi pengembangan pertanian sehat berbasis bioteknologi mikroba.
Ancaman Penyakit Tomat dan Kegagalan Pendekatan Konvensional Penyakit Tular Tanah Masih Menghantui Petani
Tomat merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan yang menopang pendapatan petani sekaligus kebutuhan gizi masyarakat. Namun di balik nilai ekonominya, budidaya tomat menyimpan risiko tinggi akibat penyakit tular tanah. Rhizoctonia solani dikenal sebagai penyebab busuk akar dan rebah semai, sedangkan Fusarium oxysporum memicu penyakit layu yang sering berujung pada kematian tanaman sebelum masa panen.
Di banyak wilayah pertanian, kedua patogen ini sulit dikendalikan karena mampu bertahan lama di dalam tanah. Spora dan struktur bertahan patogen dapat menyebar tidak merata, sehingga kerap luput dari jangkauan fungisida. Akibatnya, petani harus menghadapi penurunan hasil bahkan gagal panen, meskipun telah melakukan pengendalian kimia secara intensif.
Fungisida Kimia Dinilai Tidak Lagi Efektif
Selama puluhan tahun, fungisida menjadi andalan utama dalam mengendalikan penyakit tanaman. Namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa aplikasi fungisida sebagai perlakuan benih maupun tanah sering kali tidak memberikan hasil yang konsisten. Selain efektivitasnya terbatas, penggunaan jangka panjang juga memicu resistensi patogen, mencemari lingkungan, dan merusak keseimbangan mikroorganisme tanah.
Kesadaran akan dampak tersebut mendorong pencarian alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan. Di sinilah konsep pengendalian hayati atau biokontrol mulai mendapat perhatian luas, baik dari kalangan akademisi maupun pembuat kebijakan pertanian.
Agen Hayati Lokal Tunjukkan Kinerja Menjanjikan Trichoderma dan Pseudomonas di Garda Terdepan
Penelitian yang dilakukan terhadap isolat lokal Trichoderma spp. dan Pseudomonas fluorescens menunjukkan hasil yang menggembirakan. Mikroorganisme ini diisolasi dari tanah dan tanaman sehat di wilayah pertanian dan hutan, sehingga memiliki adaptasi alami terhadap lingkungan setempat.
Beberapa isolat Trichoderma terbukti mampu menekan pertumbuhan R. solani dan F. oxysporum secara signifikan dalam uji laboratorium. Isolat seperti Trichoderma harzianum TR20 dan T. pseudokoningii TR17 sangat efektif menghambat R. solani, sementara T. viride TR19 dan TR22 unggul melawan F. oxysporum. Jamur antagonis ini bahkan mampu menutupi dan mengkolonisasi patogen sepenuhnya.
Di sisi lain, bakteri Pseudomonas fluorescens juga menunjukkan kemampuan luar biasa. Isolat tertentu membentuk zona hambat luas di sekitar patogen, menandakan adanya produksi senyawa antijamur. Isolat P28, misalnya, konsisten efektif terhadap kedua patogen utama tomat.
Cara Kerja yang Alami namun Efektif
Keunggulan agen hayati ini terletak pada mekanisme kerjanya yang beragam. Trichoderma tidak hanya bersaing memperebutkan ruang dan nutrisi, tetapi juga menghasilkan senyawa volatil dan non-volatil yang bersifat toksik bagi patogen. Selain itu, jamur ini dikenal mampu melakukan mikoparasitisme, yakni menyerang dan menghancurkan hifa patogen secara langsung.
Sementara itu, Pseudomonas fluorescens berperan aktif di zona perakaran dengan menghasilkan antibiotik alami, siderofor pengikat besi, serta senyawa pemicu ketahanan tanaman. Menariknya, efektivitas bakteri ini dipengaruhi oleh kondisi nutrisi, yang mencerminkan pentingnya lingkungan tanah dalam keberhasilan biokontrol.
Konsorsium Mikroba Jadi Kunci
Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah kompatibilitas antara Trichoderma dan Pseudomonas. Keduanya tidak saling menghambat ketika diaplikasikan bersama. Hal ini membuka peluang penggunaan konsorsium mikroba, yaitu kombinasi jamur dan bakteri antagonis, untuk memberikan perlindungan yang lebih luas dan stabil terhadap berbagai patogen tanah.
Dampak Lebih Luas bagi Pertanian dan Kebijakan Harapan Baru bagi Pertanian Berkelanjutan
Temuan mengenai efektivitas agen hayati lokal ini dinilai sejalan dengan agenda pertanian berkelanjutan. Penggunaan biokontrol dapat mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis, memperbaiki kesehatan tanah, serta menjaga keseimbangan ekosistem mikroba. Dalam jangka panjang, pendekatan ini berpotensi meningkatkan produktivitas sekaligus keberlanjutan usaha tani.
Bagi petani, adopsi agen hayati juga dapat menekan biaya produksi dan mengurangi risiko paparan bahan berbahaya. Sementara bagi konsumen, hasil pertanian yang lebih aman menjadi nilai tambah tersendiri.
Perlu Dukungan Hilirisasi dan Regulasi
Meski hasil penelitian menjanjikan, para ahli menekankan pentingnya uji lapangan skala luas sebelum diterapkan secara massal. Selain itu, diperlukan dukungan dari pemerintah dan industri untuk memproduksi formulasi agen hayati yang stabil, mudah diaplikasikan, dan terjangkau.
Penguatan regulasi, penyuluhan kepada petani, serta integrasi biokontrol dalam program pengendalian hama terpadu (PHT) menjadi langkah strategis agar inovasi ini tidak berhenti di laboratorium.
Penelitian mengenai Trichoderma spp. dan Pseudomonas fluorescens menegaskan bahwa mikroorganisme lokal dapat menjadi senjata ampuh melawan penyakit tular tanah pada tomat. Dengan mekanisme kerja yang alami, efektif, dan saling melengkapi, agen hayati ini menawarkan solusi nyata menuju pertanian yang lebih ramah lingkungan. Jika didukung oleh kebijakan dan penerapan lapangan yang tepat, biokontrol berpotensi menjadi tonggak penting dalam masa depan budidaya tomat yang berkelanjutan.
Sumber: Cr Rini https://jtropag.kau.in/index.php/ojs2/article/view/168
Penulis: Novia Ayu Hafidah











