Agroteknologi Umsida Padukan Filosofi Jawa dan Teknologi untuk Pertanian Berkelanjutan

Agroteknologi.umsida.ac.id – Program Studi Agroteknologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FST Umsida) menggelar diskusi ilmiah bertema “Rekonstruksi Filosofi Jawa dalam Pertanian Organik Berkelanjutan”, Selasa (11/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Kampus 2 Umsida tersebut menghadirkan Sigit Hariadi sebagai narasumber. Diskusi ini menjadi ruang akademik untuk menghubungkan nilai-nilai kearifan lokal dengan perkembangan teknologi dan tantangan pertanian modern.

Ketua Program Studi Agroteknologi FST Umsida Dr M Abror SP MM mengatakan, pertanian tidak hanya berkaitan dengan aktivitas produksi pangan. Lebih dari itu, pertanian merupakan bagian dari hubungan manusia dengan tanah, air, tanaman, hewan, lingkungan, dan masyarakat.

“Ketika berbicara tentang pertanian organik berkelanjutan, kita sesungguhnya sedang membicarakan kembali bagaimana manusia menempatkan dirinya di tengah alam,” ujarnya.

Menghidupkan Kembali Filosofi Jawa dalam Pertanian

Menurut Dr M Abror, kemajuan teknologi telah meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kualitas hasil pertanian. Namun, penggunaannya harus disertai kesadaran ekologis agar produksi pertanian tidak mengorbankan kelestarian lingkungan.

Pertanian yang terlalu berorientasi pada hasil jangka pendek berpotensi menyebabkan degradasi tanah, pencemaran, penurunan keanekaragaman hayati, dan ketergantungan terhadap bahan dari luar.

Karena itu, ia mengajak peserta menggali kembali filosofi Jawa, salah satunya memayu hayuning bawana. Filosofi tersebut mengajarkan manusia untuk menjaga keindahan, keselamatan, dan keseimbangan dunia.

Dalam pertanian modern, nilai itu dapat diwujudkan dengan menjaga kesuburan tanah, melindungi sumber air, mempertahankan biodiversitas, dan menggunakan sumber daya alam secara bertanggung jawab.

Memayu hayuning bawana jangan hanya ditempatkan sebagai ungkapan budaya. Kita harus berani menerjemahkannya menjadi konsep akademik dan praktik nyata,” terangnya.

Rekonstruksi filosofi, lanjutnya, bukan berarti menerima seluruh tradisi begitu saja atau meninggalkan teknologi modern. Nilai yang masih relevan perlu dikaji secara ilmiah dan dikembangkan menjadi inovasi sesuai kebutuhan zaman.

Pertanian Organik Bukan Sekadar Mengganti Pupuk

Dr M Abror menegaskan bahwa pertanian organik tidak cukup dipahami sebagai upaya mengganti pupuk kimia dengan pupuk organik. Pertanian organik merupakan sebuah sistem yang meliputi aspek ekologis, ekonomi, sosial, budaya, dan etika.

Sistem tersebut mencakup kesehatan tanah dan tanaman, kelestarian lingkungan, kesehatan manusia, kesejahteraan petani, serta tanggung jawab terhadap generasi mendatang.

Salah satu penerapannya adalah dengan mengoptimalkan sumber daya lokal. Limbah pertanian, biomassa, pupuk kandang, dan sampah rumah tangga organik dapat diolah menjadi kompos, pupuk organik cair, maupun produk bernilai ekonomi lainnya.

Pendekatan tersebut juga mendukung ekonomi sirkular karena limbah tidak lagi dipandang sebagai bahan buangan, melainkan sumber daya yang dapat dikembalikan ke dalam proses produksi.

“Kalau kita mampu mengubah limbah menjadi produk pertanian, kita tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat dan petani,” jelasnya.

Teknologi Menjadi Alat untuk Menjaga Keseimbangan

Pertanian organik dan teknologi, imbuh Dr M Abror, bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Teknologi sensor, Internet of Things, irigasi otomatis, bioteknologi, mikroorganisme, serta pengolahan limbah dapat memperkuat praktik pertanian berkelanjutan.

Teknologi dapat digunakan untuk mengukur kelembapan tanah, menghemat air, meningkatkan kesehatan tanaman, mengolah limbah, hingga membantu petani mengambil keputusan berdasarkan data.

Sementara itu, Sigit Hariadi membagikan perspektif mengenai filosofi Jawa dan relevansinya terhadap kehidupan serta pembangunan pertanian. Diskusi berlangsung interaktif melalui berbagai pembahasan tentang hubungan manusia dengan alam, pertanian organik, dan penerapan nilai budaya dalam praktik pertanian.

Melalui kegiatan tersebut, Prodi Agroteknologi FST Umsida mempertegas komitmennya untuk mengembangkan pendidikan pertanian yang memadukan ilmu pengetahuan, teknologi, kearifan lokal, dan kesadaran ekologis.

“Pertanian masa depan adalah pertanian yang produktif, tetapi tidak eksploitatif; modern, tetapi tidak tercerabut dari akar budaya; serta mampu menyejahterakan petani tanpa mengorbankan generasi mendatang,” pungkas Dr M Abror.